BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 10 Oktober 2009

ini akkuhh

Aku melayangkan pandangan ke birunya langit. Awan putih gemuk bergumul, sebagian berpendar keperakan memantulkan cahaya matahari. Dengan latar langit biru yang sedikit diselaputi serabut awan. Kulihat pemandangan di depanku, tertangkap bayangan sebuah gundukan tanah dan menetes air mataku tanpa kukehendaki, seperti gerak refleks bagi tubuhku. Ini langit yang sama seperti waktu itu, aku ingat jelas. Tidak mungkin aku melupakannya detilnya setitikpun. Hari ini tidak ada lagi mata bening indahnya dan tatapan jahilnya mewarnai hariku. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan hidup tanpa melihat mata indahnya bersinar nakal dan sekarang ini semua terjadi. Terbayang lagi urutan adegan yang membawaku sampai ke titik ini, hingga klimaks yang mengantarku ke tempat ini, hari ini.

”Aku jadi peran utama? Aku jadi Giselle?” Aku menatap tak percaya Bu Samina, pelatih balletku. Beliau telah memilih para pemain yang akan mementaskan lakon Giselle. Beliau sengaja mengumpulkan para muridnya di aula utama gedung untuk mengumumkannya dan ternyata aku mendapat kejutan indah.
Nina menyikutku genit. ”Maila, selamat ya! Akhirnya impianlu terkabul! Jadi juga lu nempatin peran utama setelah beribu-ribu kali gagal!”
Aku merengut. ”Jangan gitu dong lu! Nggak sebanyak itu kali!”
Nina cuma nyengir, “Eh iya, kasih tahu cowoklu gih! Manatahu kali ini dia mengakui bakat dan kehebatanlu!”
”Ligo?” Aku tertawa skeptis, “Dia aja nggak suka gue resital balet biasa Na! Apalagi ini, dipasang-pasangin sama cowok! Duh nggak mungkin deh dia bolehin, dia pasti langsung negatif thinking!”
”Coba aja kasih tahu dulu! Dia kan nggak berhak ngekang bakat dan minatlu! Sekarang kan lu dapat peran utama, kali aja dia sadar!” Nina menyarankan. “Lagian gue mulai bisa baca kenapa cowoklu kesel lu balet! Dia kelewat jealous kali!” Nina tersenyum menggodaku. “Yang jadi pasanganlu kak Andro loh, si pangeran tampan itu!”
“Jealous kek lipgloss kek nachos kek, itu kan bukan hak dia ngelarang-larang gue ngembangin bakat dan minat gue! Gue juga ngerasa kok dia diktator!” Cemberutku, mulai kesal mengingat tingkah egoisnya Ligo pacarku. “Apa emang dia bukan pacar yang baik ya?”

Gerimis mewarnai suasana, titik-titik air menempel di bagian luar kaca jendela mobil, memantulkan bias cahaya indah. Didalamnya aku hanya bisa melirik Ligo yang serius menyetir, merasa serba salah. Aku akui, bias bening cahaya yang dipendarkan berjuta tetes air itu tidak dapat mengalahkan bening indahnya bias mata Ligo yang sedang serius ini. Aku selalu jatuh cinta pada mata indahnya, lebih dalam dari lautan dan lebih berkilau daripada permata.
“Apaan sih? Dari tadi ngelirik mulu? Kalo mau ngomong-ngomong aja!” Ligo mulai curiga dengan gelagatku.
Dengan pesimistis kuberitahu, “Ligo…aku bakal ikut resital balet lagi! Kali ini aku jadi peran utama di lakon Giselle!”
“Oh, bagus dong!” Ligo menjawab dengan nada skeptis. “Peran cowoknya siapa?” Seringaian meledeknya itu yang aku tidak bisa terima. Aku benar-benar kesal sekarang, pacar yang baik seharusnya ikut senang, bahkan bangga kan kalau bakatku mulai berkembang dan diakui.
“Tuh kan! Kamu kok gitu sih! Dukung kek! Pacar apaan tuh kayak gitu! Harusnya kamu itu ikut senang!” Aku menuntut. Aku kecewa dengan tanggapannya, aku mulai merasa Ligo bukan pacar yang baik untukku.
“Harus ya?” Celotehnya cuek sambil masih terus memandang ke depan. “Kamu kan tahu aku nggak suka kamu balet! Tapi kamu nggak pernah peduli omongan aku kan?”
“Kamu yang nggak pernah peduli perasaan aku!” Balasku tegas.“Gimana aku mau nurut, kamu suruh aku keluar dari kursus balet, hal yang paling aku sukai! Kamu nggak peduli kan tentang bakatku? Minatku? Padahal aku sudah jatuh cinta pada balet sejak aku belum kenal kamu, asal kamu tau aja!” Celotehku pongah, merasa menang. Kebetulan saat itu kami sudah mencapai gerbang kampus, aku memaksa turun dengan sikap ngambek. “Ini aku kasih tiket resitalnya! Pokoknya kamu harus datang, jangan kayak kemarin-kemarin!” Pesanku galak. “Kalau nggak, KITA PUTUS!” Imbuhku, berniat menguji seberapa dalam cintanya padaku.

Aku memperhatikan pergeseran jarum waktu yang seolah menyeret lambat di jam dinding kamarku. Hari inilah aku harus mengeluarkan performaku yang sebaik-baiknya. Kemarin-kemarin aku sudah mempersiapkan diri, melulur tubuh, memfacial wajah, hanya untuk hari ini. Pada pukul sebelas nanti kami akan mementaskan lakon Giselle itu dan aku harus berada di lokasi pukul setengah delapan untuk persiapan. Dan sekarang aku sudah benar-benar siap untuk berangkat, padahal baru pukul setengah tujuh, orang gila mana yang sudah akan tiba dilokasi jika aku berangkat sekarang? Ah aku terlalu antusias! Selagi sibuk menunggu waktu cepat berjalan kudengar suara mobil yang kukenal. Aku segera menghampiri jendela kamarku penasaran.
“Ligo? Ngapain dia kesini?”

Aku diseret paksa, bagai tawanan. Aku dihempaskan ke kursi depan mobil dan Ligo langsung menguncinya.
“Aku mau ajak kamu bersenang-senang hari ini!” Ujarnya sambil menyeringai, ia mulai menyetir.
”Ligo, kamu apa-apaan sih? Hari ini aku resital tau!” Aku mengingatkan cemas.
Ligo terus menyetir mantap, ”Masa bodo dengan resital kamu! Aku pingin mengajak kamu ke apartemenku! Kamu akan suka disana, kamu bisa berenang gratis sepuasnya, menikmati pemandangannya yang indah, fasilitasnya yang lengkap! Kamu biasanya suka kan?”
“Kamu mau coba menggagalkan jalannya pentas ini ya?” Curigaku. ”Kamu segitu nggak sukanya kalau aku balet?” Aku menatapnya sinis dan ia terus memandang lurus ke depan dengan pandangan optimis yang mantap, mengunci mulutnya . ”Aku nggak nyangka kamu seegois ini!” Ia tetap tak memperdulikanku, wajahnya masih bersinar ceria, aku mulai kesal dan memantapkan suara hatiku. “Kita putus!”
“Apa?”Barulah Ligo tersentak dan menoleh padaku. “Tapi kamu harus tunggu sampai…”
“Balet itu sudah jadi bagian dari diriku! Jadi kalau kamu nggak bisa terima baletku, berarti kamu nggak bisa terima aku apa adanya! Aku kecewa sama kamu!” Aku meledak, memuncratkan omelanku. Ligo jelas sekali terlihat terluka. ”Dan rencana kamu ini…jelas sekali memperlihatkan keegoisan kamu! Hebat sekali kamu berniat membatalkan pentas yang sudah kami persiapkan ini! Kamu pasti tidak memikirkan kan jerih payah kami yang mempersiapkannya? Banyak orang yang terlibat di dalamnya dan menggantungkan harapan pada pentas ini! Nggak pernah terfikir kan? Karena kamu cuma peduli diri kamu sendiri!” Bentakku emosi, tak terasa air mataku menetes. Ternyata emosiku benar-benar meledak kali ini. Ligo sepertinya mulai stress dan hilang konsentrasinya, ia mulai bingung antara memotong celotehanku dengan mengatur laju mobil. ”LIGO, AWASSS!” Aku terhenyak melihat sosok truk di depan, siap menghempas kami berdua dalam mobil.
“BRAAAAAK!” Aku ingat suara berdebum kencang itu, kaca-kaca yang pecah berpencar menjadi puing, kedua mataku terasa sakit sebelum semua akhirnya berubah gelap.

Kepalaku pening, aku mulai ingat tadi Ligo sempat membanting kemudi hingga mobil terjungkang jatuh ke bahu jalan tol yang rimbun menurun. Aku sendiri tidak yakin aku sudah sadar karena semua masih gelap, tapi aku dapat mendengar suara sekitar.
“Ligo! Aku takut…kamu dimana?” Lirihku lemah.
“Urrgh!” Mulai terdengar suara lemahnya. ”K..kamu nggak apa-apa Maila?” Terasa sentuhannya membelai dahiku lembut, aku mulai tenang menyadari aku tak sendiri. ”Tenang ya…aku disini!”
”Gelap!” Keluhku. Aku merasa tubuhku terangkat, mungkin ia membopongku. Pasti sepi disini, bahu jalan itu seingatku sudah seperti hutan rimbunnya.
”Kamu tenang ya! Aku akan cari pertolongan!” Aku bisa merasakan ia tidak dengan mudah membopongku, terasa usaha kerasnya menahan sakit. Aku sendiri khawatir padanya, tapi aku tidak dapat melihatnya, entah kenapa dengan mata ini. Perlahan ketajaman inderaku memudar, aku sudah terlalu lelah untuk mempertahankan kesadaran.

Aku merasa ada di tempat yang berbeda. Ruangan ini terasa lebih nyaman dan sejuk, terdengar bunyi mesin yang menakutkan seolah menghitung setiap detik waktu hidupku.
”Aku dimana?” Aku bertanya bingung.
“Syukurlah nak! Kamu sudah sadar!” Terdengar suara lembut wanita yang kukenali, ibuku.
Tunggu, aku sudah sadar? Berarti seharusnya aku sudah bisa membuka mataku dan melihat sekeliling, tapi kenapa semua masih gelap?
”Bu, kenapa semuanya gelap? Ada apa dengan mataku?” Aku mulai panik, aku bisa merasa atmosfir menyedihkan di ruangan ini, semua menatap kasihan padaku. “Mataku kenapa? Ligo dimana?”
“Tenang nak! Tenang!” Suara ibu terdengar gemetar.
“Dimana Ligo, dia nggak apa-apa kan bu?” Aku mulai seperti orang linglung, histeris.
Terdengar derap langkah terburu-buru memasuki ruangan. ”Ibu, donor mata yang cocok sudah ditemukan! Maila harus segera dibawa ke ruang operasi !” Suara berat itu terdengar berwibawa dan berintelektualitas tinggi.

Aku tidak sabar menunggu hari ini, perban mataku akan dibuka setelah merasakan beberapa hari menjadi orang buta. Tidak nyaman hidup dalam kegelapan. Aku tidak sabar melihat kondisi Ligo yang seolah terus ditutup-tutupi keluargaku setiap aku menanyakannya. Mungkin ia perlu dukunganku untuk pulih, aku tidak sabar untuk menemuinya. Aku sudah melupakan kekesalanku padanya, yang teringat hanyalah jasanya membopongku sekuat tenaga untuk mencari pertolongan. Aku baru sadar begitu besar cintaku padanya ketika aku nyaris kehilangan dia. Aku akan sangat bersyukur jika aku kembali bisa melihat wajahnya, melupakan masalah yang lalu.Terdengar derap ringan memasuki kamar rawatku, pasti wanita, aku sudah bisa menggunakan instingku. Disusul derap langkah mantap lelaki paruh baya.
“Maila, kamu sudah siap?” Tanya suara berat yang berwibawa.
“Dokter, jadi mau buka sekarang?” Aku memastikan. ”Aku udah nunggu-nunggu!”Perlahan gelungan perbanku dibuka, selapis, dua lapis, setelah kepalaku terasa ringan bebas dari perban aku disuruh membuka mata perlahan. Aku mulai melihat samar-samar, semakin lama semakin jelas. Aku bisa belihat seraut wajah ibuku yang menangis terharu.
”Sudah bisa melihat jelas Maila? Apa yang kamu lihat?” Dokter pria itu memastikan.
”Ibu!” Aku tidak antusias untuk menjawab, lebih antusias untuk menghadapi ibuku, tapi sepertinya perkataanku sekaligus jawaban juga. “Ibu aku sudah bisa melihat!” Pekikku kegirangan.
“Syukurlah nak!” Ibuku membekap mulutnya, terharu.
“Ibu aku nggak sabar melihat Ligo! Dia dimana? Dirawat disini juga?” Aku bertanya heboh dan anehnya semua terdiam. ”Ibu, dia ada disini kan?”
Ibu hanya mengangguk, tersenyum paksa. ”Iya, dia ada disini!”
“Dimana dia bu? Aku pingin melihatnya, sebentar nggak apa-apa deh!” Bujukku.
Ibu meminjam cermin genggam yang sejak tadi dibawa suster, lalu diperlihatkannya permukaan cermin yang bulat kepadaku. ”Dia akan selalu ada bersama kamu!”
Dan saat itu aku baru sadar, binar mata bening nan sejuk yang selama ini mempesonaku kini ada di mataku. Saat itulah aku merasa bodoh.
”Nggak mungkin!” Aku syok, terpukul, lemas menyadari kenyataan yang dihadapkan padaku. Kenapa mata ini ada di mataku? Lalu dimana si pemilik mata ini? Ligo yang aku cintai, ia lebih pantas memakai matanya ini.”Bu, jangan bohong! Ligo dimana? Dia nggak apa-apa kan?”
“Maaf!” Dokter menyela kepanikanku. “Arligo Maradian, ada sebagian tulang rusuknya yang patah dan menusuk ke lambungnya! Ia sempat sadar dan meminta matanya didonorkan kepadamu, tapi…nyawanya tak terselamatkan!” Jelasnya dengan raut dingin.
“Nggak mung-kin!” Aku menggeleng, air mataku menetes, inilah pertama kalinya air mataku begitu mudah menetes bagai gerakan refleks. “Tapi dia sempat membopongku untuk menolongku!”
“Mungkin…karena itulah luka robekannya tambah besar!” Dokter menambahkan dengan sadis.
“Nggak! Dokter bohong kan!” Rasa bersalah menghantamku ke jurang kesedihan yang paling dalam. Aku baru sadar begitu banyak pengorbanannya padaku, bahkan sebelum kecelakaan ini. Aku baru sadar kebaikan hatinya…justru saat aku telah kehilangan dia. Aku meraung histeris, kalap, mencoba kabur untuk melihat jasadnya. Aku rindu wajah tampan itu, senyum jahilnya, mata nakalnya.

Aku menatap nelangsa semua furniture di apartemen Ligo ini. Saksi bisu keakrabanku dengannya. Teringat saat aku berkunjung hanya untuk numpang menggunakan fasilitas apartemennya, berenang, fitness. Saat ia mengerjaiku jahil dan aku mengejarnya ke seantero ruangan ini. Di belakangku, tante Marina, ibunda Ligo seolah menuntunku.
”Kenapa tante mengajak aku ke sini?” Pertahananku mulai runtuh, kesedihan mendalam kembali menyergapku.
”Agar kamu tahu kisah sebenarnya dibalik ‘hari itu‘!” Tante tersenyum lemah. Aku menelengkan kepala, mendapati arti ‘hari itu’ yang disebut tante, hari kejadian kecelakaan itu. Aku menyesalkan pertengkaranku dengan Ligo, justru kenangan buruk yang kutorehkan di akhir waktunya. Tante Marina mengajakku ke ruangan kamar Ligo.

Aku memandangi meja bercermin itu, merasa aneh mendapati kotak make-up besar tersedia diatasnya. Aku mendekati, menyelidiki. Di sebelahnya tergeletak lemas dompet kesayangan Ligo, yang selalu dibawanya. Rasa rindu menjalari tanganku dan memerintahkannya untuk memegangnya, membukanya, dan kudapati tiket resital baletku tersimpan rapi di dalamnya bagai harta berharga. Aku belum mengerti makna semua ini, tapi tante Marina mengajakku ke depan lemarinya dan menyuruhku membukanya. Ketika kubuka, aku terkejut mendapati sebuah kostum balet yang sangat indah tergantung cantik, kostum terindah yang pernah aku lihat. Dadaku sesak, ternyata Ligo sama sekali tidak egois.
“Ligo sudah sering cerita ke tante tentang ketidaksukaannya dengan kesibukan baletmu. Tante sudah coba menasihatinya agar memandang lebih bijak!” Tante Marina mulai bercerita. ”Kamu tahu apa alasannya tidak suka melihat kamu di resital balet?” Tante Marina membelai rambutku, aku menggeleng pedih. ”Ia pernah kan sekali ke resital baletmu, dan ia dikagetkan dengan penampilanmu yang berubah luar biasa cantik. Ia benci mendapati penampilan itu bukan khusus dipersembahkan untuknya. Ia bercerita seolah kamu tiba-tiba menjelma menjadi peri yang memancarkan cahaya kemilau di atas panggung bersama para pemuda-pemuda dengan tampilan yang tak kalah cemerlang dan ia merasa bagai pungguk merindukan bulan. Kamu seolah hanya menjadi makhluk khayalan dan ia hanyalah satu dari sekian banyak penonton yang tidak dapat menggapaimu di panggung, hanya bisa duduk menontonmu. Melihatmu bersenang senang dalam cerita khayalan di panggung dengan tampilanmu yang memikat dan ia bukan apa-apa, melihatmu menjadi bintang dan membuatnya merasa tidak bisa menggapaimu, ia merasa bagai di dua dunia yang berbeda!“ Tante Marina tersenyum pedih, matanya berkaca-kaca. “Anak itu memang manis kalau sedang cemburu!“
Aku tidak tahan lagi, tidak menyangka alasan ketidaksukaannya itu sangatlah manis. Aku rindu wajah cemburunya, cemberut ngambeknya.
“Tapi akhir-akhir ini dia berhasil tante buat menyesal ! Dia berjanji akan meminta maaf padamu dan seperti biasa, memberi kejutan manis khasnya. Bahkan katanya ia sudah belajar menahan diri untuk tidak menonjok pria yang menjadi pasanganmu di panggung!“ Tante Marina terkekeh sedih. “Ia berencana membawamu kesini hari itu untuk mengungkapkan penyesalannya, dan ini semua ia persiapkan…agar kamu bisa berdandan disini dan berangkat ke lokasi bersamanya. Ia ingin mengamati proses metamorfosamu menjadi peri yang cantik disini, agar ia bisa menjadi orang pertama yang melihat perubahanmu itu, setidaknya ia ingin merasa kamu berdandan menjadi cantik untuknya, bukan untuk para penonton.“
Aku membekap mulut, tangisanku bertambah kencang. Pandanganku sampai buram karena mataku digenangi air mata. Aku lupa kebiasaan manisnya ini, aku ternyata tidak begitu mengenalnya, tidak ingat kebiasaannya. Padahal sudah sejak lama aku mengenalnya, ia memang suka memberi kejutan-kejutan kecil, aku teringat lagi masa lalu kami. Saat kami kelas 5 SD dan belum mengenal arti cinta yang sesungguhnya.

Aku mengenakan seragam SDku dan naik sepeda Ligo, saat itu kami dalam perjalanan ke sekolah. Aku melihat toko roti langgananku, aku tertarik untuk berkunjung nantinya.
“Pulang nanti aku mau beli kue-kue disana ah! Kayaknya enak!“ Gumamku polos.
“Apa? Jangan! Kamu nggak boleh makan kue dulu!“ Larang Ligo keras.
Aku tersentak, “Kenapa?“ Tanyaku bingung.
“Nanti kamu tambah gendut loh, aku nggak suka!“ Cemberutnya lucu. “Lagipula aku dengar sekarang kue banyak mengandung bahan berbahaya, hati-hati loh!“ Bujuk Ligo asal.
“Emang iya ya?“ Aku yang polos mencoba mempercayainya.
Seharian aku menahan diri untuk tidak makan kue yang dijual di sekolah. Ligo juga seolah menahanku untuk tidak membeli dan memakan kue di kantin. Tapi ketika pulang sekolah aku sudah tidak tahan. Semakin aku coba untuk menahan, justru membuatku semakin teringat dan pingin. Aku memutuskan pulang sekolah sendiri untuk menghindari pantauan Ligo. Aku sudah hampir memasuki toko roti yang tadi pagi kulewati ketika seseorang menarik tanganku.
“Kamu mau ngapain kesini?” Tanyanya, ternyata itu Ligo.
“Aku udah nggak tahan Ligo, aku pingin beli kue!” Keluhku.
“Nggak boleh!” Larangnya galak, “Sini kamu ikut aku!” Paksanya sambil menyeretku ke sepedanya.

“Waaah!” Aku terkesima melihat meja yang dipenuhi berbagai kue yang terlihat enak. Ternyata ia mengantarku ke rumahnya, tepat disaat ibunya memasak berbagai jenis kue.
“TARAAAA! Mamaku janji hari ini mau bikin kue! Nih, kamu bisa puas-puasin makan kue disini! Kamu pasti kangen nyicipin kue kan karena dari tadi nahan diri? Nah berarti kamu bisa bantuin aku habisini kue ini!“ Ia tersenyum tengil, senang melihat keterkejutanku.Ternyata ia menahanku untuk tidak makan kue agar aku bisa lebih lahap dan nafsu memakan kue buatan ibunya ini. Rasanya jadi lebih menyenangkan memakannya setelah tadi sempat menahan diri, terasa lebih enak juga!
“Kamu nggak boleh banding-bandingin rasa kue ibuku dengan kue buatan orang lain ya! Kue ibuku harus jadi yang paling enak!” Peringat Ligo lucu.
Aku mulai mengerti saat itu. Ia melarangku memakan kue lain sebelumnya agar lidahku tidak membanding-bandingkannya dengan rasa kue lain. Ternyata ia cuma mau aku menghargai kue buatan ibunya lebih dari kue lain, karena seharian aku belum makan kue tentu saja kue itu berhasil jadi kue yang paling enak dilidahku. Ligo begitu mencintai ibunya, begitu menyayangiku, dan punya cara aneh untuk mengekspresikannya. Aku kangen kejutan anehnya itu.

Aku masih terpaku di tanah perkuburan ini. Merasa waktu seolah menghilang. Aku tenggelam dalam dunia tak berdasar ketika menyadari aku tidak bisa lagi menjumpai tatapan mata bening nan jahil itu. Aku ingin melihat mata indah yang bersinar nakal itu.
“Seperti biasa, kamu terlalu mendramatisir keadaan deh! Aku masih disini kok, nggak kemana-mana!“ Aku terkejut mendengar suara bernada tengil yang kukenali itu.
“Ligo?“ Gumamku terkejut menjumpainya di sebelahku. “Kamu kenapa disini? Bukannya kamu sudah pergi?” Heranku. Aku sangat bahagia dapat kembali melihatnya, bahkan tidak sempat menalar dengan logika. Aku tidak perduli walaupun kejadian ini diluar nalar, yang penting aku masih bisa menemuinya sekarang.“Dibilangin, aku nggak akan pergi kemana-mana!” Ligo tersenyum lembut. “Atau kamu lebih senang kalau aku pergi?” Tawarnya ngambek.
“Kamu janji ya, nggak akan tinggalkan aku lagi?” Aku terlalu takut ia tinggalkan kembali, aku ingin selalu bersamanya. Aku tidak peduli walaupun sosok didepanku ini hanyalah bias permainan cahaya, ilusi mata ataupun jiwa tanpa raga. Yang terpenting aku dapat selalu melihat mata bening nan nakalnya. Aku butuh dia, aku ingin terus bersamanya.
“Iya aku janji!” Suaranya begitu menenangkan. Aku puas bisa terus bersamanya, bahkan aku tak keberatan kalaupun aku sudah mulai gila. Biarkan ia menghantuiku seperti arwah Giselle yang menghantui pangerannya tercinta

0 komentar: