BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 10 Oktober 2009

cinta pertama

Hari itu aku baru pindah sekolah di daerah Bogor. "Hai, namaku Renita Maharani...panggil saja aku Rani. Aku pindahan dari Jakarta" ucapku saat memperkanalkan diri di depan kelas. Saat itu tanggapan teman-teman sangatlah baik, mereka semua ramah. Saat jam istirahat mereka ajak aku untuk bermain bersama. Senang sekali rasanya temanku bertambah lagi.
Aku lahir di Madiun salah satu kota di Jawa Timur. Ayahku kerja di sebuah perusahaan kontraktor. Karena pekerjaan ayahku sejak kecil aku dan keluargaku hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, salah satunya Jakarta. Aku punya banyak teman di daerah-daerah yang pernah aku singgahi.
Ada salah satu teman yang menarik perhatian aku. Dia ganteng, pintar namun sedikit pendiam dan agak ketus nama Vian, lengkapnya Alvian Ananto. Aku sendiri mungkin termasuk orang yang agak susah untuk bergaul walaupun aku memiliki banyak teman. Saat itu entah kenapa aku punya keberanian untuk menegurnya "hai, namaku Rani. namamu Vian kan?" tanyaku "Hai juga" jawabnya "Ada apa panggil aku?". "Ya ampun ketus banget orang ini bener kata temen-temen" keluhku dalam hati.
"Gak ada apa-apa... cuma mau ajak kenalan aja. Lagi pula aku kan duduknya di depan kamu, masa kita gak saling tegur sapa." ucapku lirih, tapi reaksinya hanya membulatkan mulutnya seraya keluar kata "Oooooo". Akhirnya akupun hanya bisa diam membisu.
Teng...teng.... bel pulang sekolah berbunyi waktunya pulang. Aku dan teman-teman bergegas untuk membereskan buku dan segera pulang. Jarak sekolah ke rumah aku tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan angkot setengah jam. Keluar sekolah akupun segera menuju jalan tempat pemberhentian angkot.
Ada satu angkot berhenti di depan aku, tapi angkot itukan udah penuh. Tiba-tiba ada yang keluar dari angkot dan mempersilahkan aku untuk duduk di tempatnya. Saat aku lihat orang itu ternyata "Vian" terucap namanya di bibirku. Ternyata dia baik juga. Pipiku pun memerah dibuatnya karena tersanjung. Angkotpun akhirnya berlalu dan dia pun bergelantung di pintu angkot.
Tak lama satu penumpang yang ada di sebelah aku turun dan Vian akhirnya masuk dan duduk di sebelah aku. Awalnya kita berdua hanya diam membisu sampai pada akhirnya "Turun dimana?" tanyanya padaku. "Jalan Mawar" sahutku " kalau kamu turun dimana?" "Jalan Anggrek, berarti kita satu komplek donk" Ya ternyata rumah kami memang satu komplek, dan hanya selisih satu gang. Dalam hati aku sangatlah senang karena ada kemungkinan kita berangkat dan pulang sekolah bareng.
Memang benar sejak saat itu kita selalu pulang dan pergi bersama. Bahkan beredar kabar diantara teman-teman kalau aku dan Vian jadian. Sendainya itu benar karena memang itu yang aku harapkan, tapi sampai saat ini gak pernah ada kata-kata 'aku sayang kamu...mau gak jadi pacar aku'. 'Huh....' perasaan ini bikin aku penasaran dan sampai akhirnya aku ngambek dan menghindar dari dia. Aku merasa perasaan aku digantung sama dia. Kita gak pernah lagi pulang bareng.
Sekarang aku begitu merindukan saat-saat bisa bercanda bersama. Aku perharap bisa deket lagi sama dia. Banyak teman yang menanyakan 'Vian mana?' 'kok gak bareng sich?' 'kalian putus?' pertanyaan yang juga gak bisa aku jawab karena kita memang gak pernah jadian.
Sampai lulus sekolah aku tetap masih sayang sama dia. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Seandainya saat itu aku tidak berharap terlalu banyak, atau setidaknya aku bisa jujur tentang perasaanku mungkin aku mungkin aku gak akan kehilangan momen cinta pertama aku.

0 komentar: